Susur sungai adalah kegiatan mengenalkan ekologi sungai.Terdiri dari pengenalan arus air, komponen yang ada di sungai, bentukan sungai, lingkungan sekitar sungai, badan sungai baik itu lingkungan pertanian, hutan, mata air dan sebagainya.Susur sungai melatih seseorang untuk memahami jenis bahaya yang ada di sungai dan kegiatan melatih ketahanan fisik.
.
TINGKATAN SUSUR SUNGAI
''
Meskipun demikian, kegiatan susur sungai memiliki kriteria tertentu. Tergantung dengan usia peserta, lebar sungai dan tujuan susur sungai. Untuk siswa SD-SMP hanya sebatas dikenalkan lewat sungai kecil dengan lebar satu meter hingga dua meter.Selanjutnya apabila peserta susur sungai tingkat SMA atau mahasiwa di mapala bisa dikenalkan bahaya sungai, acara menyeberangi sungai dan menyelamatkan diri di sungai,Itupun susur sungai untuk sungai kecil bukan sungai besar, kalau sungai besar itu sudah masuk petualangan dan untuk yang sudah mahir.
.
PERSIAPAN
''
Mengenai persiapan susur sungai,lazimnya susur sungai yang harus utama dilakukan melihat kondisi cuaca.Apabila dilakukan pada musim hujan harus sangat cermat dan hati-hati melihat cuaca terutama di hulu. Sebab banjir tidak hanya terjadi di bagian tengah dan pinggir. Meskipun di bagian tengah dan bawah tidak hujan, namun juga bisa terjadi banjir jika hujan terjadi dari hulu.Pengamatan cuaca harus diperhatikan, termasuk sejarah banjir yang tinggi dan membahayakan yang boleh melakukan hanya yang sudah usia matang paling tidak punya ilmu dasarnya
.
MEMPERHATIKAN KARAKTERISTIK SUNGAI
''
Selain itu yang juga tak kalah penting adalah mengetahui sejarah dan karakter sungai. Hal itu bisa diketahui dengan wawancara penduduk sekitar yang paham dengan karakter sungai.Termasuk apabila banjir berapa tinggi, material apa saja yang dibawa. Apakah materi banjir membawa pasir, lumpur air, kayu sampah dan sebagainya. Sejarah dan pengetahuan itu harus didapat dari masyarakat sekitar. Dari cerita masyarakat nantinya akan diidentifiasi titik yang berbahaya. Apakah itu belokan, cekungan, kedung bagian yang dalam, growongan atau undercut. Ada survey awal tergantung materi yang akan diajarkan. Bisa dua hingga tiga Kali. skenario keamanan berkegiatan di alam bebas menjadi yang utama. Yaitu chek poin apabila terjadi kecelakaan dan lokasi evakuasi.Prinsip kegiatan yang berisiko, safety first jadi prirottas utama namanya kegiatan di alam bebas punya risiko.
.
Saya sangat tertarik dengan pengalaman kak.suyatno yang dituangkan dalam tulisan yang ia posting.
tulisan itu sbb :
'''
Musibah adik di Sleman Jogjakarta mengingatkan saya. Kejadian itu persis pernah saya lakukan saat LT3 2002 Kwarcab Kota Surabaya di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan. Waktu itu saya menjabat Sekretaris Cabang Kota Surabaya.
Peserta, panitia, dan tim khusus penjelajahan selamat saat itu. Padahal peserta melewati dua kali sungai hujan dari Gunung Arjuna.
Mengapa selamat. Salah satunya adalah pengalaman menganalisis cuaca waktu itu. saya tahu hujan comulus akibat penguapan tinggi di area pegunungan yang sering terjadi lewat pukul 12 siang. Itu terjadi setelah musim hujan berjalan dua bulan, ya seperti Februari ini.
Saat itu, panitia saya sarankan melewati sungai hujan kali purwodadi di bawah pukul 12. Karena tanggung jawab tinggi, saya ikut berjalan di paling belakang sambil mendorong agar cepat berjalan sehingga melewati sungai sebelum pukul 12.
Ternyata, peserta melewati sungai selisih 10 menit dari kedatangan air bah. Saya berdiri persis di bibir sungai. Saya lihat air bah sangat ganas karena membawa batu besar dan kayu besar. Rombongan penjelajahan safari camp LT3 Surabaya selamat.
Tiba-tiba, ada kabar dari panitia yang bertugas tentang ada air bah lewat telepon. Saya katakan, "terlambat, air sudah lewat 10 menit yang lalu," Panitia pun yang berjaga 3 km di atas bisa terlena.
Jadi, yang perlu dipahami adalah kemampuan mengamati cuaca dan alam sekitar. Kemampuan orientering harus dipertajam. Kemampuan itu harus diujicoba berkali-kali. Misalnya, kemampuan mendeteksi ketinggian air sungai jika banjir dapat dilakukan dengan melihat sisa sampah di pinggir sungai. Kerentanan tanah dapat diamati melalui tanda pohon kecil yang tumbang atau retak tanah. Begitulah seterusnya.
Jadi, KMD dan KML yang mempersiapkan pembina di alam terbuka, perlu diperbanyak pengalaman orientering. Sampai mereka tahu jalur penjelajahan yang aman dan selamat.
Di samping itu, pembina yang sudah bersertifikat KMD atau KML perlu terus diujicoba menguasai alam terbuka bersama para pelatih setempat. Tradisi ruangan perlu digeser ke tradisi learning by doing. Kegiatan kepramukaan lebih berkuasa ketika di alam terbuka. Mengapa begitu? Roh kepramukaan adalah alam terbuka dan belajar sambil melakukan. Kekuatan manajemen risiko perlu diaplikasikan nyata.
Tulisan ini mengiringi rasa duka mendalam terhadap adik-adik yang bermusibah di Sleman Jogjakarta. Risiko akan datang tiba-riba. Namun, risiko dapat ditengarai sebab-sebabnya.
''
Dari tulisan tersebut dapat disimpulkan bahwa management Resiko itu Sangat Penting, kemampuan membaca cuaca dan tanda tanda alam sangat penting, survey lokasi sangat penting, koordinasi yang baik sangat penting, dengar pendapat dari orang lain juga penting,perencanaan yang matang juga sangat penting.
Itu semua harus di siapkan dalam segala acara, bukan hanya saat kegiatan susur sungai saja. Dengan demikian dapat meminimalisir Resiko buruk yg mungkin saja terjadi.
Kalau menurut kakak - kakak Bagaimana ??
Sumber :
